Masa Kalah Ama Sopir Metromini ya?
11:38 PM | Author: yoesuf a.k.a ucup

Diambil dari forum Daarut Tauhiid

Posted by: "muhamad agus syafii"

Wed May 13, 2009 12:27 pm (PDT)

Masa Kalah Ama Sopir Metromini ya?

By: agussyafii
Siang yang panas ditengah deru bising metromini menambah penuh sesak dada membuat saya terasa pengab. Saya terkadang menikmati laju kendaraan umum, macet dan sesekali bisa bertegur sapa dengan sesama penumpang. Tak lama terdengar suara sopir metromini, sesampai di Kreo terdengar suara Sang sopir Metromini, 'Ucok, oper..oper.. '

'Kenapa bang? kan setoran belum dapet nih kita.'tanya Ucok, si kenek.

'Kita sholat dhuhur dulu, rizki kan Alloh yang atur. siapa tau sehabis sholat kita dapat sewa banyak.' kata pak sopir.

Nampak wajah kenek metromini menggelengkan kepala seolah tak memahami jalan pikirannya. gelengan kepala si kenek hampir bisa dipahami sebagai bentuk pikiran masyarakat perkotaan yang terus bekerja yang tidak mengenal kata berhenti. Berhenti sejenak istirahat dan menjalankan ibadah sholat menjadi barang mewah.

'Sopir antik, hari gini masih sempat-sempatnya sholat..bukan malah ngejar setoran.' begitu gerutu kenek metromini.

Mendengar gerutu sikenek ini hampir membuat saya tertawa. Mentertawakan diri saya yang seolah saya itu keneknya. mengejar setoran tak pernah selesai dan tuntas. Hari ini dikerjakan, pekerjaan lainnya menumpuk. Sholat malah terkadang diakhir sampai istri mesti mengingatkan dengan SMS, 'Mas, sudah sholat belum?'

Untuk bisa menjalankan sholat tepat waktu seperti sopir metromini itu membutuhkan kekuatan yang sangat luar biasa didalam dirinya, dia harus mengalahkan hawa nafsu yang bernama setoran. Terlintas dalam pikiran, 'Masa saya kalah ama sopir metromini yak? bisa sholat lebih awal waktu?'

'Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di Sisi Alloh ialah orang yang paling bertaqwa.' (QS, al-Hujurat:ayat 13)

Wassalam,
agussyafii
im baaaack
11:35 AM | Author: yoesuf a.k.a ucup
setelah sekian lama kita tak bersua... hehehehe
Ibadah Sambil Kerja ato Kerja Sambil Ibadah???
2:27 PM | Author: yoesuf a.k.a ucup
Dari Millis Daarut Tauhiid

Posted by: "Hery Latu" herylatu@yahoo.com herylatu
Thu Feb 19, 2009 1:56 am (PST)
Salamualaik,
Dari seorang sahabat, semoga bermanfaat

Hery

Ada salah satu prilaku kita yang sering terjadi adalah "Ngurusi yang bukan urusannya", dampaknya adalah hidup tidak tentram. Hidup tidak tentram, akan berdampak pada kesehatan diri maupun kesehatan tatanan masarakat. Ada empat kelompok kehidupan manusia; (1) Hidup tentram dengan berkelimpahan harta; (2) Hidup tidak tentram dengan berkelimpahan harta; (3) Hidup tentram dengan tidak berkelimpahan harta; dan (4) Hidup tidak tentram dengan tidak berkelimpahan harta.

Kesempatan ini, akan diambil kasus masalah "hidup tentram dengan tidak berkelimpahan harta", tidak berkelimpahan harta dalam tulisan ini, bukan berarti hidupnya kekurangan, namun hidup yang tidak berkelebihan harta berlimpah ruah, namun ketentramannya sangat berlimpah ruah.

Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada pada tanggal 26 Mei 2008, dihalaman bisnis dan teknologi, dengan judul "Mencari Tuhan di Penggorengan Pisang Raja", maaf kami belum bisa menyebutkan penulisnya, sebab sampai sekarang belum menemukan penulisnya.

Sore hari terasa lezat jika disisipi beberapa potong pisang goreng dan teh manis hangat. Setelah lelah berdiri beberapa jam menyampaikan materi pelatihan, laju mobil mengantarkan saya ke sebuah warung gorengan yang tidak jauh dari komplek perhotelan mentereng di negeri ini. Kaca mata bisnis saya selalu saja senang memperhatikan geliat orang-orang yang berani menolong diri sendiri dan keluarganya melalui usaha halal dalam bentuk apapun. Melihat warung ini, saya mencoba mengkalkulasikan kira-kira berapa besar nilai bisnisnya.

Bagaimana pengelolaannya, bagaimana pemasarannya, teknik jual si pelayan dan berbagai hal-hal teoritis lainnya.
Seorang paruh baya menyodorkan sepiring pisang goreng ke hadapan saya sambil tersenyum ramah dan berbasa-basi mempersilahkan saya untuk mencicipinya sekaligus menanyakan minuman apa yang saya minati. Pemilik wajah yang begitu teduh dan damai itu bernama Sudiro yang akhirnya saya tahu bahwa panggilan akrabnya adalah Wak Diro.

Menikmati pisang goreng terasa lebih hangat dengan obrolan ringan bersama Wak Diro. Dalam guyonan yang mengalir saya tahu ternyata Wak Diro adalah perantau asal Kudus yang sudah 16 tahun menjual gorengan pisang. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan satu tandan besar dan hasil penjualannya bisa menyekolahkan ke empat anaknya hingga menjadi sarjana. Wak Diro rupanya jebolan fakultas teknik universitas negeri tertua di Jogjakarta, walau ia hanya bisa sampai semester 5.

" Kenapa tidak bisnis yang lain Wak? Atau menjadi pegawai negeri?" tanya saya menyelidik. Belum sempat menjawab pertanyaan saya, ia menundukkan badan tanda permisi kepada saya karena datang satu mobil Kijang Inova baru yang mendekat. Ternyata mobil itu dikemudikan oleh istrinya yang mengantarkan sesuatu.
Pikiran saya berputar tak tentu. Tanpa sadar saya sedang menakar kantong orang tua ini. "Seorang penjual pisang goreng mampu menguliahkan keempat anaknya hingga sarjana dan kini didepan mata saya, si Istri datang dengan mobil baru yang tidak murah harganya".

Bukan cari uang Sekali lagi saya jarah lagi semua sudut warung kecil itu. Penataan dagangan lumayan menarik, tetapi tidak istimewa. Kualitas produknya berupa gorengan juga terasa sama seperti pisang goreng ditempat lain. Atmosfir warung juga sama seperti warung-warung lain, walau yang ini terlihat lebih bersih dan terjaga. Sarana promosi sangat sederhana, hanya tulisan Pisang Goreng Panas yang ditulis tangan dengan kuas biasa. Daftar harga tercetak di selembar kertas terlaminasi yang ditempel di dinding sebelah kiri. Ada dua orang pegawai yang membantu menggoreng, membuat minuman dan melayani pelanggan sekaligus. Tetapi jumlah pembelinya silih berganti, tidak sederas air pancuran, tetapi datang satu-satu seperti tiada henti.

Tak lama kemudian istri Wak Diro pergi, kata Wak Diro, istrinya harus mengantar beberapa kertas tisue ke lima cabangnya yang lain. Dan informasi itu membuat saya memilih untuk bertahan lebih lama demi mengetahui apa rahasia sukses bisnis ini.

Setelah melewati beberapa basa-basi, lalu ia bertanya kepada saya, "Mas, sampean apa percaya sama Gusti Allah?". Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena saya tidak bisa memperkirakan kemana arah pemikirannya.

Lalu tanpa menunggu jawaban saya, Wak Diro menjelaskan bahwa dalam 8 tahun terakhir Ia tidak lagi mencari uang semata, tapi Ia mencari Tuhan. "Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah".

Seperti pengakuan kebanyakan manusia, Ia meyakini bahwa hanya Tuhan yang sanggup mengarahkan dirinya kepada kondisi apapun."Mas, saya bukan jualan pisang goraeg lho", aku Wak Diro, "Saya ini sedang membantu orang-orang agar bisa beribadah dengan baik". "Wow..." pikir saya, apakah penjual pisang goreng ini masih waras?

"Saya ini senang membantu banyak orang dengan mengganjal perutnya agar ibadah shalat Ashar dan Maghrib-nya berjalan dengan baik, karena jam makan malam biasanya setelah Shalat Isya" terang Wak Dirno. Saya mulai memahami apa maksud kalimat Wak Diro sebelumnya, "Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah".

Kini saya paham, mengapa ia begitu ramah menyambut tamu-tamunya, kualitas gorengan tetap terjaga baik ukuran maupun takarannya dan ruangan kedai ini tetap terjaga kebersihannya. Jelas bukan karena sekadar mencari uang, tetapi Wak Dirno sedang beribadah. Mencari keridhaan Tuhan. Seperti dijanjikan Allah ketika kita bersyukur, maka nikmat itu terus bertambah dan mengalir lancar.

Saya benar-benar terbayang betapa saya dan banyak sahabat saya yang kerja mati-matian siang -malam hanya sekadar mencari uang. Bayangan itu begitu asam terasa setelah mendengar pengakuan Wak Diro itu. Betapa Wak Diro sudah menemukan kunci dasar sukses bisnis. Ia tidak sekadar menjual jajanan, ia muncul dengan alasan yang lebih mulia. Pisang goreng hanya media mendapatkan ridha Sang Khalik. Semua bentuk kerja dan bisnis dikerjakannya dengan menghadirkan batin, tulus dan iklas.

Khawatir

"Bagian saya adalah mempermudah ibadah orang lain, bagian Gusti Allah menjaga saya Mas" "Saya hanya pasrah dan memohon agar selalu dituntun Gusti Allah" aku Wak Diro. "Apapun langkah saya, saya percaya Gusti Allah akan menyelamatkan saya. Jika saya dibawa ke kubangan kerbau sekalipun, saya tetap percaya kalau itu adalah kehendak Gusti Allah dengan maksud tertentu agar saya mendapatkan hikmah atas perjalanan itu".

Menyelesaikan pisang terakhir, saya bertanya, "Wak, apakah sampean tidak khawatir dengan kenaikan BBM?", dengan ringan Wak Diro menjawab, "Lha wong, saya sudah serahkan hidup saya ke Gusti Allah, kok mesti kuatir?". Sambil mengulurkan uang kembalian ke saya, ia berujar, "Saya kan cuma kawulo, apakah pantas kalau saya ikut campur tangan 'ngatur kerjaan Kanjeng Gusti?"

Hidup adalah pilihan, kita bisa memilih hidup tentram atau hidup sengsara. Ketentraman dan kesengsaraan fokus utamanya bukan terletak di banyak atau sedikitnya harta, namun lebih terletak pada "Kita mau menyerahkan hidup ke yang mengurus kehidupan atau tidak". Itu saja pilihannya ........

Kita itu sering aneh, selalu ngurusi yang bukan urusannya. Berani menghadapi hidup tentram, tanpa selalu merasa terhimpit aneka permasalahan! !! Bagaimana Pendapat anda ???

pict. courtesy by nurulhayat.org
Permohonan Maaf Untuk Syarif
2:51 PM | Author: yoesuf a.k.a ucup
Sehubungan dengan Tragedi tidak diajaknya Syarif dalam acara
Pengajian Umum oleh KH. Abdullah Gymnastiar di Masjid Sabilillah Malang
tanggal 20 Februari 2009 kemarin,
Ucup memohon maaf atas tragedi tersebut...

Maapin Ucup ya Riif...
Heheheheh


Hari Jumat, 20 Februari 2009 pagi-pagi setelah sholat Subuh, Ucup diberi tahu sama Bapak Ucup kalau hari ini ba’da sholat Jumat di Masjid Sabilillah Malang mau ada pengajiannya KH. Abdullah Gymnastiar a.k.a Aa’ Gym. Denger inpo itu Ucup yang masih setengah nyawa kaget ga karuan. Subhanallah, Alhamdulillah hari ini salah satu orang yang Ucup kagumin mau dating ke Malang n ngasi tausiah-tausiah berharganya Beliau ke kita semua. GPL alias Ga Pikir Lama (halaaah meksooo) Ucup langsung bertekad bakalan mau dateng.

Niat itu sebenernya teteup berkobar sampe jam 10.30 pagi. Tapi sebenernya sempet redup juga si gara-gara pas Ucup mandi banyak orang di luar pada gedo-gedorin pintu minta Ucup cepet-cepet mandinya, padahal lagi di puncak kenikmatan tuh pas digedor-gedorin, hehehehe… bis gitu aer di kamar mandi pake mati lagi.. sempet juga kepikiran pertanda buruk neeh (astaghfirullah…) tapi ya ternyata cukup juga tuh sisa aer yang ada di bak mandi.

Sekitar jam 11.15 Ucup udah nyampe di Masjid Sabilillah, tadinya kirain masih sepi gitu, ternyata parkiran sepeda motor udah lumayan penuh. Nah pas udah ada di dalem Masjid, jamaah udah lumayan banyak, n akhirnya cuma kebagian di shaf ke-5. Sambil nunggu masuk waktu Shalat Jumat, Ucup sempet baca beberapa ayat Al Quran. Waktu Shalat Jumat udah masuk, ya seperti halnya Sholat Juamat yang laen, kita mulai prosesi Sholat Jumat n diterusin ma acara pembacaan Shalawat Nabi sambil nunggu Aa’ Gym dateng.

Sekitar 1 jam kemudian, akhirnya yang kita tunggu-tunggu pun dateng, Al Mukarram KH. Abdullah Gymnastiar. Melihat wajah n sosok Beliau yang menurut Ucup sangat mempesona namun tetap bersahaja. Sempet ada kejadian yang sebenernya bikin miris ato apa ya lebih tepatnya??? Seperti biasanya jika ada seorang Ulama yang dateng, para jamaah langsung berebut buat cium tangan Ulama itu. Ada seorang teman yang sempet bilang itu adalah salah satu tanda ketawadhu’an seorang awam terhadap seseorang yang alim seperti Ulama. Tapi waktu itu yang bikin miris adalah, saking berebutnya jamaah yang ingin mencium tangan Beliau, sampai-sampai Aa’ Gym sempet jatuh. Nah, setelah sambutan dan beberapa acara tambahan, mulailah Beliau memberikan tausiah-tausiahnya.



Pas Beliau ceramah, cara Beliau berceramah, logat Beliau, ciri khas isi ceramah Beliau sama sekali tidak hilang, ya maksudnya setelah beberapa waktu lama beliau udah jarang muncul di TV buat ngasi tausiah-tausiah bermanfaat dari Beliau. Sempet juga beliau menyinggung masalah poligami yang beliau lakukan yang sempat membuat Beliau “jatuh”. Tapi itu semua ngga bikin Ucup kehilangan rasa kangen, hormat n kagumnya terhadap sosok and tausiah-tausiah Beliau.

1 jam Beliau bertausiah ngga kerasa udah lewat. Tausiah pun selesai n Beliau pun pamitan ke semua jemaah. Ya semoga Beliau bisa lebih sering tampil lagi untuk bisa mengurangi rasa kangen kami atas tausiah-tausiah Beliau. Amieeen...

Oh ya buat isi tausiah beliau (versi rangkuman Ucup) bakal Ucup tampilin di posting berikutnya... To Be Continued Yaak... Heheheheh....

Kisah Ular Buta Dan Burung Kecil
11:54 AM | Author: yoesuf a.k.a ucup
Suatu hari ada seorang perampok yang sedang berjalan kelelahan setelah ia pulang merampok. Di tengah jalan sang perampok melihat satu pohon yang sangat rindang, kemudian ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon itu. Ketika ia sedang beristirahat, secara tidak sengaja ia melihat seekor ular berbisa yang setelah ia sadari ternyata ular itu buta. Kemudian sempat terbersit di pikirannya jika bagaimana si ular buta ini masih tetap bias bertahan hidup padahal si ular ini buta.

Tak lama kemudian, sang perampok melihat ada seekor burung datang membawa secuil daging yang dibawanya terbang entah dari mana… ternyata si burung itu malah datang ke tempat si ular buta yang sedang ada di sarangnya. Lalu kemudian si burung kecil itupun menyuapi si ular buta itu dengan cuilan-cuilan daging yang ia bawa.

Melihat “drama” si ular buta dan si burung kecil itupun langsung sujud dan kemudian bertobat sambil menangis kepada ALLAH SWT, ia mengatakan “Ya ALLAH sungguh hinanya aku apabila dibandingkan dengan ular buta dan bururng kecil itu, tak sepantasnya aku mengkhawatirkan akan rezeki yang akan Engkau berikan kepadaku, sampai-sampai aku harus mengambil hak orang lain untuk kemudian aku makan, padahal dengan kondisi seperti itu saja ular yang buta itupun tetap Engkau berikan rezekinya…”

Memang, dalam kitab Minhajjul Abidin yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali telah disebutkan bahwa kita tak sepantasnya mengkhawatirkan rezeki yang akan datang kepada kita, yang memang telah ditentukan jumlah, cara dan melalui apa rezeki kita akan datang oleh ALLAH SWT. Karena kekhawatiran kita akan rezeki yang akan datang kepada kita akan mengganggu dan akan menjadi penghalang segala ibadah kita kepada ALLAH SWT.

Wallahua’lam Bisshawaaf…
Don't Judge A Book By Its Cover!
1:34 PM | Author: yoesuf a.k.a ucup


Don’t judge a book by its cover…
(hehehe jadi inget tukul, n bukan empat mata-nya, i miss u oom... wkwkwkwkw)

Kata-kata itu langsung muncul di otaku cup pas ucup mikirnya mulai kemana-mana. Kemana-mana disini tu maksudnya waktu ucup mikir kalo seseorang ato sesuatu itu dari tampilan luarnya aja... astaghfirullah... knapa ya pikiran pertama yang muncul tuh selalu pemikiran soal tampilan luarnya doank??? Dasar setan! Ngajaknya mikir yang kek gitu!

Barang apapun itu knapa ucup selalu ngenilai dari tampilannya duluan, ya meskipun akhirnya berusaha buat nilai itu dari sisi lain. N parahnya knapa penilaian terhadap tampilan itu juga berlaku buat sesama kita (manungsia maksdnya...) cowok cewek ga ada bedanya... apa lagi pas setannya lagi pada arisan di deket otaknya ucup... waaah udah deh... komentarnya makin menjadi... kek pas ucup jalan entah ke mall ato kemana lah gitu trus ketemu pasangan yang (maaph banget, maaph... ) njomplang , nih otak langsung langsung bilang ”kejamnya dunia.... bagaikan langit dan dalemnya sumur...!” (heheheh, biasanya kan bagai langit dan bumi, berhubung jaoooh banget makanya bumi jadi dalemnya sumur, jadi lebih jaoooh lagi dah...hehehehhe). dasar setan ya... padahal kan ucup ga tau gimana tuh cowok bisa dapet tuh cewek, bisa jadi kan si cowoknya baeek bangeet, juara cerdas cermat se karisidenan Malang Besuki, trus rajin ibadahnya blum lagi kalo dia anaknya orang mampu yang dapet duit dari jalan halalan toyyibbah n dapet kesempatan buat nyelametin tuh cewek dari cowok2 kurang ajar... (jiaaaelaaaahhh.. sempurna banget tuh cowok...ada ga si cowok kek gt?) ya mirip ma liriknya Saykoji ”mungkin dia memang cowok sejati yang deketin cewek pake hati...” halaaah.

Padahal ucup ndiri gimana?
udah ndut, jelek, ga punya apa2, ga bisa apa2 ga da prestasi lagi, pake mikir kek gitu lagi...
dasar ucup!

Nah sekarang nih masalahnya gimana ya caranya buat ngeilangin tuh pemikiran yang selalu ngenilai barang atao bahkan orang lain dari penampilannya dulu??? Sebenernya beberapa temen bilang, emang si kebanyakan kita ngenilai dulu dari penampilannya, soalnya tuh yang kita liat pertama kan penampilan luarnya dulu. Bener si, bener banget malahan, tapi ya itu tadi gimana tuh pemikiran ga muncul pertama kali tiap kita liat orang baru. Hmmm tapi sayangnya mpe sekarang ucup belum nemuin jawaban atau tips (kali yaa lebih tepatnya...) buat itu semua. Sekarang ucup cuma bisa berdoa biar pemikiran itu ga muncul lagi, n kalo pun muncul lagi, ucup Cuma bisa bilang ”Astaghfirullah hal adziim...”

pict courtesy by http://www.muslimdaily.net